Entri Populer

Senin, 01 Februari 2016

Kakaban: Danau Ubur-Ubur yang Unik dan Langka

Pernahkah anda membayangkan diri sedang menyelam di antara ratusan bahkan ribuan ubur-ubur ?. Jika anda sering menyelam atau bersnorkelling ria di tepi pantai atau di antara terumbu karang, tentu anda akan spontan menjawab : TIDAK…! .
Saya setuju dengan respon anda. Sengatan ubur-ubur yang menyebabkan rasa gatal dan perih memang seringkali menjengkelkan. Bahkan beberapa jenis diantaranya tidak dapat dipandang sebelah mata karena sengatannya yang mematikan.
Akan tetapi, kesan yang berbeda akan anda temukan, jika menyelam di danau Kakaban. Sebuah danau purba yang menjadi sarang bagi ribuan ubur-ubur tak bersengat.
Letak Danau Kakaban
Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, sebuah pulau kecil tak berpenghuni di pesisir timur Kalimantan. Posisinya sedikit di sebelah utara Tanjung Mangkalihat, tegak lurus ke arah laut lepas dari muara Sungai Berau.
Pulau ini memiliki panjang 6 km, lebar 2,5 km, dan  luas 774,20 ha. Sedangkan danau Kakaban memiliki panjang 2,6 km, lebar 1,5 km, luas sekitar 390 ha dengan kedalaman maksimum 11 m.
Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Bentuk pulau menyerupai angka 6 terbalik dan didominasi oleh dataran karst berbukit kecil dengan lapisan tanah permukaan yang dangkal (<10 berbukit="" cm="" cukup="" dataran="" di="" ekologis="" ini="" lebat="" namun="" p="" rapuh.="" sangat="" secara="" terdapat="" tergolong="" vegetasi="" yang="">
Gambar 1. Posisi Pulau Kakaban (merah). Sumber: Google.com
Gambar 2. Letak Pulau Kakaban (lingkaran merah). Sumber:                http://www.reefbase.org/ReefGIS/mapper.asp.
Gambar 3. Peta Pulau Kakaban.Sumber:http://www.starfish.ch/Zeichnung/Karten/Kakaban.gif (modified).
Proses Pembentukan Danau Kakaban
Danau Kakaban terbentuk dari sebuah pulau karang berbentuk cincin yang disebut atol. Umumnya, daratan  atol yang muncul ke permukaan laut berukuran sempit dan melingkar. Di tengah atol terdapat semacam kolam berisi air laut yang disebut laguna.
Adanya pergerakan lempeng kulit bumi dan berbagai aktifitas geologi yang kompleks di pesisir timur Kalimantan, menyebabkan karang atol perlahan-lahan mengalami pengangkatan setinggi 40-60 m di atas permukaan laut.
Akibatnya, air laut yang berada di tengah atol pun terjebak dan tidak dapat keluar lagi. Terbentuklah sebuah danau yang penampakannya seolah-olah dipeluk oleh daratan yang ada disekelilingnya.
Dari penampakan itulah pulau dan danau ini mendapatkan namanya: “Kakaban”. Dalam bahasa daerah setempat “kakaban” berarti “memeluk”.
Menurut Massin dan Tomascik (1996), danau atau laguna yang airnya terjebak dan tidak  memiliki hubungan dengan air dengan laut di sekitarnya (melalui permukaan) seperti Danau Kakaban, tergolong jarang ditemukan di alam.
Meskipun terisolir, Danau Kakaban masih tetap mempertahankan karakternya sebagai danau berair asin/payau, sebab di dasar danau terdapat berbagai macam lubang, terowongan, gua atau retakan kecil yang memungkinkan pertukaran air danau dengan lingkungan laut di sekitarnya.
Danau Kakaban dideteksi memiliki pasang surut sekitar 11-19 cm. Sedangkan perairan laut di sekitar pulau Kakaban memiliki pasang surut hingga 2,5 – 3 meter (Kott 1995, Tomascik, 1996). Danau yang memiliki ciri seperti diuraikan di atas, oleh Holthuis (1973) digolongkan sebagai danau Anchialine.
Tidak semua atol yang mengalami pengangkatan akan bernasib sama seperti Danau Kakaban.
Danau Tegano misalnya,yang ada di Pulau Rennell Kepulauan Solomon telah kehilangan sebagian besar ciri-cirinya sebagai danau yang berasal dari laut akibat tidak adanya pertukaran massa air dengan laut di sekitarnya.
Salinitas di danau ini hanya 4 psu (permil) saja. Sedangkan Danau Kakaban berkisar antara 24-26 psu (permil). Pasang surut juga tidak ditemukan di Danau Tegano. Salinitas yang rendah kemungkinan menjadi penyebab absennya ubur-ubur dari danau ini. Namun, jenis alga hijau berkapur Halimeda masih dapat ditemukan.
Beberapa atol lain yang mengalami pengangkatan bahkan hanya menyisakan cekungan tak berair, yang menunjukkan pernah eksisnya sebuah danau yang kemudian menjadi kering.
Salah satunya dapat ditemukan di Pulau Dana/Laut Sawu (Molengraaff, 1929) yang menjadi salah satu pulau terluar di sisi selatan Indonesia. Danau ini menjadi kering karena minimnya curah hujan dan tidak adanya pertukaran air dengan laut sekitarnya (Tomascik, 1994).
Ubur-Ubur Danau Kakaban
Danau Kakaban memiliki setidaknya empat jenis ubur-ubur, yaitu: Ubur-ubur bulan Aurelia aurita (5-50 cm), ubur ubur totol Mastigias cf papua (1-20 cm),ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (7-10 mm) dan ubur-ubur terbalikCassiopea ornata (15-20 cm).
Ubur-ubur bulan merupakan jenis ubur-ubur terbesar. Tubuhnya dapat dikenali dari warnanya yang putih agak transparan dengan motif daun semanggi di ujung tudungnya. Struktur seperti daun semanggi ini sebenarnya adalah gonad dari ubur-ubur tersebut.
Gambar 4. Spesies Ubur-Ubur Danau Kakaban. A. Ubur-ubur terbalik (upside-down jellyfish) Cassiopea ornata (15-20 cm) B. Ubur-ubur bulan Aurelia aurita(5-50 cm) C. Ubur-ubur totol Mastigias cf papua (1-20 cm) D. Ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (7-10 mm). Sumber Gambar :http://www.art.com/products/p15273713-sa-i3636422/darlyne-a-murawski-upside-down-jellyfish-cassiopeia-ornate-in-a-unique-saltwater-lake.htm, http://www.panoramio.com/photo/1617358, http://abundancesecrets.com/motivational-posters/index.php?item=6015572, http://www.montereybayaquarium.org/animals/AnimalDetails.aspx?id=780784
Ubur-ubur totol (Gambar 4C) merupakan jenis ubur-ubur yang paling banyak jumlahnya di Danau Kakaban. Akibat isolasi selama ribuan tahun, ubur-ubur ini memiliki karakter fisik yang berbeda dengan saudaranya yang hidup di laut.
Kurangnya predator menyebabkan kelenjar sengat (nematosit) dari ubur-ubur ini mengalami reduksi sehingga berukuran sangat kecil. Dalam ekosistem danau Kakaban yang nyaris tanpa predator dan memiliki sumber makanan yang melimpah, keberadaan kelenjar sengat tidak diperlukan lagi.
Selain reduksi pada kelenjar sengat, pola totol pada tubuh ubur-ubur di danau Kakaban juga menghilang. Warna tudungnya pun berubah menjadi kemerahan/pink. Demikian pula dengan tentakel yang tereduksi menjadi lebih kecil sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5. di bawah ini:
Gambar 5. Akibat isolasi selama ribuan tahun, spesies ubur-ubur totolMastigias cf papua dari Danau Kakaban (kiri) menunjukkan perubahan morfologi yang drastis dibandingkan dengan saudaranya yang hidup di laut (kanan). Tampak hilangnya motif totol, warna lebih kemerahan/pink dan tentakel yang tereduksi (tanda panah) pada spesies ubur-ubur Kakaban (kiri). Sumber Gambar:http://k41.pbase.com/o4/90/294690/1/61079956.060525derawan156comp.jpg,http://www.oceanwideimages.com/categories.asp?cID=709&p=3
Jenis berikutnya adalah ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (Gambar 4D) yang merupakan spesies ubur-ubur terkecil di Danau Kakaban.
Meskipun ukurannya paling kecil, keluarga ubur-ubur ini (kelas Cubozoa) terkenal sebagai kelompok ubur-ubur dengan daya sengat paling mematikan.
Namun, sebagaimana jenis ubur-ubur sebelumnya, kelenjar nematosit ubur-ubur kotak telah tereduksi sehingga tidak lagi membahayakan bagi manusia.
Jenis ubur-ubur lainnya yang juga unik adalah ubur-ubur terbalik (upside-down jellyfish) Cassiopea ornata (Gambar 4A). Ubur-ubur ini tergolong hewan bentik yang terspesialisasi hidup di dasar perairan.
Berbeda dengan jenis sebelumnya yang memangsa zooplankton, ubur-ubur terbalik mendapatkan makanan dari zooxanthella yang “bersemayam” di dalam jaringan tubuhnya.
Zooxanthella termasuk protozoa berbulu cambuk yang mampu memproduksi makanannya sendiri melalui proses fotosintesis.  Sebagian besar zooxanthella pada ubur ubur ini terkonsentrasi di bagian bawah tudung dan tentakel sehingga untuk memaksimalkan proses fotosintesis,  ubur ubur ini membalik tubuhnya di dasar perairan.
Salah satu pemandangan bawah air yang menyolok dari Danau Kakaban selain ubur-ubur adalah dominannya alga hijau berkapur yang menutupi hampir seluruh dasar perairan.
Jenis alga utama adalah Halimeda opuntia forma triloba yang memiliki talus menyerupai trisula dan tumbuh membentuk hamparan hingga setebal 1,5 m.
Jenis alga lainnya, Halimeda tuna memiliki talus serupa kipas bersusun-susun. Jenis kedua ini lebih banyak tumbuh di sekitar akar bakau yang banyak tumbuh di tepi danau.
Gambar 6. Alga hijau berkapur dan sponges merupakan pemandangan bawah air yang paling dominan di Danau Kakaban. Tampak seorang penyelam sedang mengamati alga hijau dan sponges yang melekat di akar tunjang bakau. Sumber: http://www.panoramio.com/photo/1617358
Menurut Tomascik (1994), kedua alga berkapur yang ada di Danau Kakaban tergolong alga pembangun terumbu yang tahan terhadap suhu tinggi dan energi arus yang besar, sehingga  kuat dugaan, suhu air danau yang mencapai 31°C menjadi faktor pembatas yang menghalangi tumbuhnya jenis alga lain di danau Kakaban.
Kedua jenis alga ini juga diketahui menghasilkan senyawa metabolit sekunder (halimeda-tera-asetat dan halimeda-terial) yang tidak disukai hewan herbivor, sehingga kedua jenis Halimeda tersebut dapat tumbuh maksimal tanpa ada yang mengontrol.
Melimpahnya  jumlah individu dari beberapa spesies di Danau Kakaban menunjukkan adanya faktor pembatas yang menghalangi spesies lain untuk tumbuh dan berkembang.
Suhu dan salinitas kemungkinan menjadi faktor pembatas utama yang berpengaruh terhadap populasi berbagai jenis organism di Danau Kakaban.  Hanya spesies yang memiliki daya adaptasi tinggi dan toleransi lingkungan yang besar saja yang mampu bertahan.
Danau Kakaban termasuk ekosistem yang rapuh. Jika hutan di sekeliling danau ditebang, akan terjadi masukan lumpur dan tanah yang akan membuat danau menjadi dangkal. Pendangkalan danau akan menyebabkan suhu air menjadi cepat meningkat saat kemarau.
Hal ini sangat berbahaya bagi biota yang ada di dalam danau. Demikian pula jika musim hujan, masukan air tawar yang besar ke dalam danau akan menyebabkan fluktuasi salinitas yang drastis.
Gambar 7. Pemandangan Danau Kakaban. Tampak vegetasi mangrove dan hutan bukit kecil yang tumbuh di sepanjang tepian danau. Sumber: B.W. Hoeksema-Naturalis.
Saat ini Danau Kakaban yang menjadi bagian dari Kepulauan Derawan telah dimasukkan sebagai salah satu daerah Kawasan Konservasi Laut di Kabupaten Berau dan diusulkan sebagai salah satu situs warisan dunia.
Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Danau Kakaban yang unik dan langka ini pun banyak diminati turis mancanegara.
Selain danau Kakaban, Indonesia juga memiliki danau ubur-ubur yang selama ini keberadaannya dirahasiakan dan baru saja terungkap, yaitu: Danau ubur-ubur Togean di utara Pulau Togean, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.
Berenang di antara ribuan ubur-ubur tak bersengat tentulah menjadi sebuah pengalaman mengesankan yang layak untuk dicoba.
Jika anda berkunjung ke danau tersebut, ingatlah untuk tetap menjaga kelestariannya dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat, mematahkan ranting/cabang pohon yang ada atau mengambil dan membunuh hewan yang dijumpai di sepanjang perjalanan.
Selamat menikmati pesona Danau Kakaban……
Gambar 8. Berpose di antara ribuan ubur-ubur totol Mastigias cf papua Danau Kakaban (kiri) . Sumber Gambar:http://www.divetime.com/photos/Featured/Caroline_Istas/Jelly_Fish_Lake_5503.html
source : https://dody94.wordpress.com/2010/10/19/kakaban-danau-ubur-ubur-yang-unik-dan-langka/

REFERENSI :
Kott P., 1995. A new colonial Styela (Ascidiacea: Styelidae) from an isolated marine habitat, Kakaban Island, East Kalimantan, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 43: 469-474.
Massin C, Tomascik T, 1996. Two new holothurians (Echinodermata: Holothuroidea) from an anchialine lagoon of an uplifted atoll, Kakaban Island, East Kalimantan, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 44: 157-172.
Ng PKL, Tomascik T, 1994. Orcovita saltatrix, a new genus and species of anchialine varunine crab (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Grapsidae) from Kakaban Island, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 42: 937-948.
Tomascik T, Mah AJ, 1994. The ecology of ‘Halimeda Lagoon’: an anchialine lagoon of a raised atoll, Kakaban Island, East Kalimantan, Indonesia. Tropical Biodiversity 2: 385-399.

Tomascik T, Mah AJ, Nontji A, Moosa MK, 1997: The Ecology of the Indonesian Seas 1: 438-440, 443-446, 474-477, 583-585; 2: 770-781. Periplus, Singapore.

Tips Penting Untuk Pertama Kali Diving

Tips Penting Untuk Pertama Kali Diving



Jakarta - Menyelami dunia bawah laut, pasti mengasyikan. Bagi kamu yang mau pertama kali diving, baca dulu tips-tipsnya berikut ini.

Beberapa publik figur yang terkenal doyan menyelam, salah satunya adalah Marischka Prudence. Wanita cantik berambut panjang ini kerap kali mengupload foto-fotonya sedang diving di berbagai destinasi selam di Indonesia.

Pru, begitu panggilan akrabnya membagi tips bagi para traveler yang baru mau mencoba kegiatan diving. Seperti perbincangannya dengan detikTravel, Rabu (13/1/2015) kemarin, berikut 5 tips darinya:

1. Perhatikan teori

"Saat mengambil sertifikasi atau lisensi menyelam, kita akan diajarkan tentang teori-teori diving. Teori itu harus diperhatikan," tegasnya.

Seperti misalnya, tidak boleh ketika sedang menyelam ke kedalaman 30 meter, lantas langsung naik dengan cepat ke permukaan. Itu akan berbahaya untuk paru-paru karena tekanan air. Dalam teori, hal-hal semacam itu akan dijelaskan berikut dengan keterangan ilmiahnya.

"Nomor satu itu keselamatan. Diving itu gampang kok, tapi kita harus mengerti teori agar sadar akan keselamatan kita," papar Pru.

2. Mulailah menyelam di tempat dangkal

Pertama kali diving, rasanya tidak sabar ingin langsung menyelam ke laut sedalam-dalamnya. Namun tak sedikit, traveler yang pertama kali diving akan panik karena baru pertama kali merasakan bergerak di dalam air.

"Cara melawan panik seperti itu, adalah dengan menyesuaikan kedalaman. Maka baiknya, mulailah menyelam di tempat-tempat yang dangkal," terang Pru.

Pru menambahkan, tempat-tempat yang dangkal tersebut, kedalamannya bisa berkisar 5 meter. Pelan-pelanlah menggerakan badan, bikin diri merasa nyaman dan tenangkan pikiran. Setelah sudah oke dan tidak panik lagi, mulailah menyelam lebih dalam pelan-pelan.

"Pikiran kita akan tenang kalau kedalamannya masih dangkal, terus pelan-pelan baru menyelam. Santai saja," katanya.

3. Seimbangkan badan, jangan pegang koral!

Saat diving pertama kali, kita kadang merasa sulit menyeimbangkan badan. Kalau sudah begitu, tak terasa tangan kita akan menyentuh koral atau terumbu karang agar bisa seimbang. Namun ternyata, Pru menilai itu berbahaya untuk si penyelam dan kehidupan terumbu karangnya

"Karena keseimbangan kacau, kecenderungan orang adalah memegang koral. Padahal, memegang koral itu tidak bagus untuk tangan manusia dan tidak bagus juga untuk koralnya karena dapat rusak," ungkapnya.

Malah, beberapa penyelam pemula memakai sarung tangan agar tangan tidak terluka ketika memegang koral. Pru kembali dengan tegas, mengingatkan agar jangan memegang koral!

"Jangan pakai sarung tangan dan pegang koral. Biasakanlah (untuk seimbang di dalam air) sendiri. Kita harus menyesuaikan dan rileks, bisa kok menyeimbangkan diri di laut tanpa memegang koral. Bisa banget!" tegasnya.

4. Percayakan dengan dive master dan alat selam

"Ada pemandu atau dive master yang akan menemani kita saat menyelam. Mereka akan tahu, kita (yang menyelam) orangnya seperti apa, mudah panik atau tidak. Saat menyelam, kita harus percaya sama mereka," tutur Pru.

Menurut Pru, dive master yang lebih ahli menyelam akan mengarahkan para penyelam yang masih baru-baru ke tempat yang lebih mudah. Kemudian mereka akan melihat, apakah siap diajak ke tempat yang lebih dalam.

"Beberapa dive master itu malah bisa menenangkan orang dan sangat sabar. Tapi tentu, kita yang harus berusaha untuk tetap tenang di dalam air. Kalau ada apa-apa, bilang ke dive master," ujar Pru.

Selain itu, para penyelam juga harus percaya dnegan alat mereka. Sebelum menyelam, perhatikan dulu semua peralatan dengan detil. Jangan sampai ada yang kurang, atau malah ada yang rusak.

"Percaya saja sama alat, rileks. Makin kita nyaman, itu makin bagus," kata Pru.

5. Jangan sok tahu

Terakhir, ini yang paling penting bagi para penyelam pemula. Meski kamu sudah sering dengar cerita orang-orang yang suka menyelam atau sudah ribuan kali menonton video diving, Pru mengingatkan agar jangan sok tahu!

"Mungkin sudah pernah lihat teman-temannya diving atau sudah tahu tentang tempat diving sebelumnya, tapi jangan sok tau!" tegasnya.

Pru menambahkan, di mana pun kita menyelam, kita harus mendengarkan arahan dive master dengan seksama. Patuhi apa saran-sarannya dan jangan langgar larangan yang dia beri. Itu semua, toh akan kembali ke diri kita sendiri, keselamatan kita sendiri.

"Jangan sok tahu deh, karena nomor satu itu keselamatan," pungkas Pru.

source : http://travel.detik.com/read/2016/01/15/141044/3119414/1048/tips-penting-untuk-pertama-kali-diving




5 Hal yang Bikin Kamu Bawa Terlalu Banyak Barang Saat Traveling



5 Hal yang Bikin Kamu Bawa Terlalu Banyak Barang Saat Traveling











Jakarta - Packing jadi hal yang memusingkan karena rasanya selalu ada barang yang harus dibawa. Berikut 5 hal yang bikin kamu terlalu banyak bawa barang.

Mulai dari karena takut kehabisan pakaian, atau malas mencari barang sejenis di tempat tujuan. Selalu ada alasan kenapa kamu harus bawa barang berlebih saat liburan. 



Disusun detikTravel, Senin (1/2/2016) berikut 5 hal yang bikin kamu bawa terlalu banyak barang saat liburan. Serta, apa yang harus dilakukan agar tidak membawa barang terlalu banyak.

1. Takut kehabisan pakaian

Hal ini biasa terjadi pada wanita. Traveler wanita kerap membawa terlalu banyak baju saat liburan. Bagi sebagian dari mereka, lebih baik membawa banyak baju dibanding terlalu sedikit.

Alhasil, tas pun sudah penuh. Saking penuhnya, sampai harus membawa tas lain untuk menampung barang lainnya. Padahal pada kenyataannya, tidak semua pakaian yang dibawa pada akhirnya dipakai.

Daripada membawa pakaian yang tidak dipakai, lebih baik membuat daftar. Buatlah daftar pakaian sesuai dengan kegiatan di itinerary. Juga, pilihlah baju yang bisa digunakan lebih dari sekali. Hemat bawaan!

2. Terlalu banyak rencana

Mungkin perjalanannya hanya 3 hari, namun terlalu padat rencana selama liburan. Ini jadi salah satu alasan bawaan kamu bisa membludak.

Karena acara yang berbeda membutuhkan perlengkapan dan pakaian yang berbeda. Apalagi acaranya sangat berbeda. Ada yang berpesta, ada yang bermain air. Pakaian yang dibawa pasti banyak dan belum tentu terpakai semuanya.

Tak apa banyak acara. Hanya saja, cari pakaian dan perlengkapan yang bisa digunakan di beberapa acara sekaligus. Misal ingin membawa jaket, pilihlah yang semi jas sehingga masih bisa dipakai saat acara resmi.

3. Malas membuat daftar

Membuat daftar barang bawaan adalah paling mudah menjaga isi tas agar tetap terjaga. Memang malas jika belum terbiasa. Namun sekali sudah membuat, kamu tak perlu bingung barang apa yang belum terbawa.

Karena dengan membuat daftar, kamu tahu apa saja yang harus dimasukkan. Sedangkan jika tidak menggunakan daftar, kamu sering merasa ada yang kurang.

Buatlah daftar dan packing pun jadi lebih mudah dan menyenangkan!

4. Terlalu kuatir

Mungkin baju ini tidak akan cocok. Atau mungkin, tas ini terlalu besar sehingga harus bawa tas yang lebih kecil. Mengkhawatirkan hal-hal sepele malah bikin kamu keberatan bawa tas.

Buang jauh-jauh rasa khawatir tersebut. Pede saja mengenakan pakaian atau tas dan sepatu yang sudah dibawa. Yang penting, kamu percaya diri. Nantinya, aura positif yang akan membantu penampilan kamu.

5. Membawa tas terlalu besar

Saat semua bawaan sudah dimasukkan, kamu merasa masih ada yang kurang karena banyaknya ruang kosong. Yang salah bukan tasnya, yang salah adalah kamu.

Jangan gunakan tas terlalu besar jika hanya membawa sedikit barang. Karena kamu cenderung merasa kurang membawa barang. Pada akhirnya, kamu ingin membawa benda yang belum tentu digunakan.

Kamu boleh saja bawa tas besar jika butuh bawa barang atau banyak oleh-oleh dari tempat tujuan. Tapi pastikan untuk tidak mempacking terlalu banyak barang saat mau berangkat ya!

source : http://travel.detik.com/read/2016/02/01/185000/3132290/1048/5-hal-yang-bikin-kamu-bawa-terlalu-banyak-barang-saat-traveling?v9911031381

Selasa, 26 Januari 2016

Oil Prices: What’s Behind the Drop? Simple Economics

The oil industry, with its history of booms and busts, is in its deepest downturn since the 1990s, if not earlier.

Earnings are down for companies that have made record profits in recent years, leading them to decommission roughly two-thirds of their rigs and sharply cut investments in exploration and production. An estimated 250,000 oil workers have lost their jobs, and manufacturing of drilling and production equipment has fallen sharply.

The cause is the plunging price of a barrel of oil, which has been cut roughly by more than 60 percent since the June 2014.

Prices have recovered a few times last year, but a barrel of oil has already sunk this year to its lowest level since 2004. Executives think it will be years before oil returns to $90 or $100 a barrel, pretty much the norm over the last decade.

What is the current price of oil?
Brent crude, the main international benchmark, was trading at around $31 a barrel on Tuesday. The American benchmark was at around $31 a barrel.


Why has the price of oil been dropping so fast? Why now?
 
This a complicated question, but it boils down to the simple economics of supply and demand.

United States domestic production has nearly doubled over the last several years, pushing out oil imports that need to find another home. Saudi, Nigerian and Algerian oil that once was sold in the United States is suddenly competing for Asian markets, and the producers are forced to drop prices. Canadian and Iraqi oil production and exports are rising year after year. Even the Russians, with all their economic problems, manage to keep pumping.
There are signs, however, that production is falling in the United States and some other oil-producing countries because of the drop in exploration investments. But the drop in production is not happening fast enough, especially with output from deep waters off the Gulf of Mexico and Canada continuing to build as new projects come online.

On the demand side, the economies of Europe and developing countries are weak and vehicles are becoming more energy-efficient. So demand for fuel is lagging a bit.

Who benefits from the price drop?
Any motorist can tell you that gasoline prices have dropped. Diesel, heating oil and natural gas prices have also fallen sharply.

The latest drop in energy prices — regular gas nationally now averages under $2 a gallon, roughly down about 14 cents from a year ago — is also disproportionately helping lower-income groups, because fuel costs eat up a larger share of their more limited earnings.
Households that use heating oil to warm their homes are also seeing savings.

Who loses?
For starters, oil-producing countries and states. Venezuela, Nigeria, Ecuador, Brazil and Russia are just a few petrostates that are suffering economic and perhaps even political turbulence.
The impact of Western sanctions caused Iranian production to drop by about one million barrels a day in recent years and blocked Iran from importing the latest Western oil field technology and equipment. With sanctions now being lifted, the Iranian oil industry is expected to open the taps on production soon.
In the United States, Alaska, North Dakota, Texas, Oklahoma and Louisiana are facing economic challenges.
Chevron, Royal Dutch Shell and BP have all announced cuts to their payrolls to save cash, and they are in far better shape than many smaller independent oil and gas producers that are slashing dividends and selling assets as they report net losses. Other companies have slashed their dividends.
About 40 companies in North America have gone into bankruptcy protection.
What happened to OPEC?
A central factor in the sharp price drops, analysts say, is the continuing unwillingness of OPEC, a cartel of oil producers, to intervene to stabilize markets that are widely viewed as oversupplied.

Iran, Venezuela, Ecuador and Algeria have been pressing the cartel to cut production to firm up prices, but Saudi Arabia, the United Arab Emirates and other gulf allies are refusing to do so. At the same time, Iraq is actually pumping more, and Iran is expected to become a major exporter again.

Saudi officials have said that if they cut production and prices go up, they will lose market share and merely benefit their competitors. They say they are willing to see oil prices go much lower, but some oil analysts think they are merely bluffing.

If prices remain low for another year or longer, the newly crowned King Salman may find it difficult to persuade other OPEC members to keep steady against the financial strains. The International Monetary Fund estimates that the revenues of Saudi Arabia and its Persian Gulf allies will slip by $300 billion this year.

Is there a conspiracy to bring the price of oil down?
 
There are a number of conspiracy theories floating around. Even some oil executives are quietly noting that the Saudis want to hurt Russia and Iran, and so does the United States — motivation enough for the two oil-producing nations to force down prices. Dropping oil prices in the 1980s did help bring down the Soviet Union, after all.

But there is no evidence to support the conspiracy theories, and Saudi Arabia and the United States rarely coordinate smoothly. And the Obama administration is hardly in a position to coordinate the drilling of hundreds of oil companies seeking profits and answering to their shareholders.

When are oil prices likely to recover? 
 
Not anytime soon. Oil production is not declining fast enough in the United States and other countries, though that could begin to change this year.
Demand for fuels is recovering in some countries, and that could help crude prices recover in the next year or two. There is now little or no spare production capacity to give the market a cushion in case of another crisis in a crucial oil-producing country.
The history of oil is of booms and busts followed by more of the same.


source : http://www.nytimes.com/interactive/2016/business/energy-environment/oil-prices.html?login=email&_r=0

Senin, 17 Februari 2014

Mengenal kawah Gunung Ijen yg terisi “air aki”



Kompleks Ijen, terletak di Jawa Timur dekat kota Banyuwangi, adalah sebuah ekspresi pusat aktivitas vulkanik di timur pulau Jawa. 

Letak lokasi Kawah Ijen, Jawa Timur

Kompleks Ijen ini merupakan sebuah kaldera yang sangat besar dengan sejumlah bangunan-bangunan vulkanik yang lain, diantaranya dikenal dengan nama Gunung  Ijen dan Gunung  Raung adalah yang paling aktif.

Kawah Ijen (Ijen crater) merupakan sebuah danau terbesar di dunia dengan derajat keasaman yang sangat tinggi (pH lebih dari 0.5) dan juga terisi air yang telah mengalami mineralisasi volkanik. 

Juga terdapat sebuah solfatara permanen di tepi danau, yang terus-menerus menghasilkan belerang murni. Belerang ini ditambang oleh pekerja lokal. Sesekali juga terjadi ledakan akibat adanya kegiatan freatik, yang terjadi ditengah danau. Aktifitas freaktik ini ditengarai sebagai indikasi ancaman utama dan telah terjadi beberapa kali.




Peta topografi Kawah Ijen

Yang ditulis tentang Kawah Ijen dalam blog  ini merupakan sebuah terjemahan yang dibuat oleh Commission of Volcanic Lakes (Komisi danau Vulkanik) yaitu sebuah komisi dari organisasi dunia IAVCEI (International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior).


Lokasi Gunung Ijen tentunya sudah tahu, kan ? Ya, lokasinya ada di paling ujung Timur dari Propinsi Jawa Timur. Lihat gambar diatas. Sebelum menelusuri Gunung ini tentunya perlu dimengerti sejarah terbentuknya dan peristiwa masa lalu dari Gunungapi Ijen ini.

Terbentuknya kaldera Ijen.

Genesa Kaldera Gunung Ijen ini dibuat pertama kali oleh Van Bammelen tahun 1941. Kemudian disempurnakan oleh beberapa penulis berikutnya. Dibawah ini gambaran terbentuknya Kawah dan Kaldera Ijen.
Tipe-tipe pembentukan kaldera gunung sudah pernah didongengkan juga disini : Pembentukan kaldera gunungapi
Kondisi pada Pra-kaldera (sebelum terbentuk kaldera),  tidak diketahui apa yang terjadi sebelum 300.000 tahun lalu, namun diperkirakan sudah terbentuk  Stratovolcano tunggal (Paleo Ijen) dengan perkiraan ketinggian 3500 m.  Gunung yang berisi lava dan pyroclastics ini berada diatas endapan berumur Miosen (12.5 juta tahun) yang berupa batu gamping.

Skematis sejarah kaldera Ijen menurut Van Bemmelen (1941) dan Sitorius (1990).


Pembentukan kaldera diperkirakan terkait dengan letusan dengan volume besar yang menghasilkan (~ 80 km3) endapan aliran piroklastik, yang mencapai ketebalan 100-150 m. Yang paling luas berada di bagian utara lereng  kompleks gunungapi ini.  Peristiwa ini diperkirakan terjadi beberapa waktu sebelum 50.000 tahun lalu, Ini disimpulkan berdasarkan pada analisa umur dari K-Ar (50 ± 20 ka) dari aliran lava dari Gunung  Blau yang dianggap menjadi unit pasca-kaldera tertua. Pada saat itu juga diperkirakan terjadi  pembentukan danau di lantai kaldera. Danau sedimen yang terdiri dari serpih, pasir dan saluran sungai endapan yang terkena di daerah utara dekat Blawan.
Kegiatan vulkanik pasca pembentukan kaldera diantaranya  fase letupan phreatomagmatic, freatik, strombolian dan Plinian yang menghasilkan kerucut lingkaran, yang umumnya berupa bangunan-bangunan komposit, dan kerucut dalam, yang sebagian besar adalah dibangun oleh material abu vulkanik. Gunung berapi ini menghasilkan abu vulkanik muda dan kerucut scoria (batu apung), serta lava, endapan aliran piroklastik dan endapan material hasil longsoran dan puing-puing yang sekarang mencakup aliran kaldera. Menurut Sitorus (1990) penanggalan radiokarbon dari endapan aliran piroklastik menghasilkan umur> 45.000  BP (di Jampit) 37.900 ± 1850 (di Suket), 29.800 ± 700 (di Ringgih), 24.400 ± 460 (di Pawenen Tua), 21.100 ± 310 (di Malang) dan 2.590 ± 60 (di Ijen).

Catatan Aktivitas letusan Ijen
Kegiatan vulkanik yang tercatat ini adalah terbatas pada gunung berapi Ijen, yang memiliki kandungan asam di kawah danaunya,  setidaknya merupakan catatan dalam 200 tahun terakhir. Letusan bersejarah yang terdokumentasi ini tidak mencacat munculnya anak-anak produk magmatik tetapi terutama hanya freatik.
Berikut ringkasan didasarkan pada Kusumadinata (1979) dan Laporan Kegiatan Vulkanik dari Smithsonian Institution Program Global Vulkanisme:
  •  [1796] terjadi letusan freatik
  •  [1817] 15-16 Januari: Letusan freatik (banjir lumpur menuju Banyuwangi, cukup besar volume air danau dibuang ke Sungai Banyupahit)
  • [1917] 25 Februari – 14 Maret: danau tampak mendidih; letusan freatik berulang, lumpur dilemparkan hingga 8-10 m di atas permukaan danau.
  • [1921-1923] Peningkatan suhu air danau; uap gas di atas permukaan air danau.
  • [1936] 5-25 November 1936: Letusan freatik lahar memproduksi mirip dengan 1796 dan 1817
  • [1952] 22 April 1952: letusan uap sampai 1 km tinggi, lumpur dilemparkan hingga 7 m di atas permukaan danau
  • [1962] 13 April 1962: 7 m erupsi tinggi; gas gelembung di permukaan danau, sekitar 10 m dengan diameter
    18 April: gelembung air hingga 10 m tinggi, perubahan cat air
  • [1976] 30 Oktober: air mendidih pada Silenong selama 30 menit
  • [1991] 15,21,22 Maret: gelembung air dan mengubah warna air, gas yang tinggi 25-50 m pencurahan pada kecepatan tinggi; kegiatan ini tercatat sebagai gempa seismik antara 16 dan 28 Maret.
  •  [1993] 3,4,7 Juli dan 1 Agustus: letusan freatik, perubahan warna air danau, Pencurahan, kebisingan booming, uap menggumpal, semua terpusat di tengah danau
  • [1994] Februari 3: letusan freatik kecil dari bagian selatan danau. Bersamaan dengan letusan, tingkat danau naik ~ 1 m.
  •  [1977] Akhir Juni 1997: periode aktivitas seismik meningkat, perubahan warna air danau; gas gelembung dan daerah sampai dipipinya; kuat bau belerang; burung terlihat jatuh ke air, satu atau lebih pekerja belerang dekat puncak melaporkan pusing dan sakit kepala.
  •  [1999] 28 Juni: letusan freatik di dua lokasi. Sebuah ledakan yang menyertainya terdengar di pertambangan belerang km 2 situs dari puncak dan tremor vulkanik direkam dengan amplitudo 0.5-1 mm. Minggu berikutnya, 06-12 Juli, kuning abu-abu emisi sulfur yang diamati dari kawah dan keras “jagoan” terdengar suara. Air danau kawah adalah putih kecoklatan dan telah mengambang menggumpalkan belerang pada permukaan. Kegempaan meningkat dimulai pada awal April. Jumlah tipe B acara tetap tinggi (lebih dari 34/week) untuk sebagian periode melalui pertengahan Juni. Kemudian secara bertahap menurun kegempaan sampai pertengahan Juli, setelah mana jumlah mingguan B-jenis acara tetap stabil pada rata-rata 9/week. Selama periode 18 Mei sampai pekan yang berakhir pada tanggal 21 Juni sebuah “abu membanggakan putih” naik 50-100 m.
Danau Air Aki yang paling berbahaya !

Profil Kaldera Ijen

Terlepas dari potensi bahaya lahar, telah telah dikenal sejak lama bahwa sifat asam dari air juga menghasilkan masalah lingkungan. Pada tahun 1921 dibangun sebuah bendungan untuk mengatur tingkat air, tetapi ternyata air telah merembes melalui dinding berpori, dan menyebabkan hulu sungai menjadi asam sepanjang 40 km panjang. Hal ini terjadi setelah adanya rekahan di dalam kaldera itu menyebabkan air menerobos tepi kaldera dan mencapai hunian penduduk di dataran aluvial sebelum mencapai Laut Jawa. Di daerah ini, hampir semua air sungai yang asam digunakan untuk irigasi. Perkebunan kopi yang luas menutupi sebagian besar dari dataran tinggi di dalam kaldera.
Danau kawah dan sekitarnya selain berbahaya juga membuat taman alam dengan keindahan unik yang membentuk pemandangan yang juga sangat unik. Bersama dengan sumber air panas dan air terjun di tangkapan kaldera, daerah ini juga menarik  wisatawan.
Yang perlu juga dimengeri bahwa air danau ini mencemari lingkungan. Ini merupakan bentuk pencemaran alami bukan oleh ulah manusia.

Danau Kawah

Peta kedalaman Kawah Ijen ( disurvey tahun 1996 oleh Takano )

Danau Kawah berada pada ketinggian (2200 m dpl) memiliki bentuk oval yang teratur (600 x 1000 m), luas permukaan 41 x 106 m2 dan volumenya diperkirakan antara 32 dan 36 x 106 m3. Pada tahun 1921 dibangun bendungan oleh Belanda untuk mengatur tingkat air dan mencegah melimpah bencana selama musim hujan. Awalnya pintu air yang digunakan tetapi ini konstruksi tetapi sekarang tidak dapat dioperasionalkan lagi karena danau ini bocor !. Kesamaan antara peta topografi 1920 (Kemmerling, 1921) dan 1994 (VSI) menunjukkan bahwa morfologi kawah tidak banyak berubah di terakhir meskipun sejarah peristiwa letusan freatik telah terjadi berulang-ulang. Sebaliknya, morfologi dasar danau kawah telah mengalami perubahan yang signifikan. Kedalaman soundingpada tahun 1925 mencatat kedalaman maksimum 198 meter pada titik terdalam, yang kemudian berada di sebelah timur dari pusat. Pada tahun 1938 titik terdalam telah bergerak ke barat dengan hasil bahwa danau lebih dalam di pusat (~ 200 m) dan di beberapa titik di bagian barat. Pengukuran kedalaman terbaru yang dilakukan pada tahun 1996 (Takano, data tidak dipublikasikan) menunjukkan bahwa kedalaman maksimum sedikit ber kurang.

Mengapa Danau ini sangat Asam ?

Proses kimiawi pembentukan air Danau Kawah Ijen yang dibuat oleh Bernard ( Tidak dipublikasikan )

Reaksi-reaksi akibat interaksi air dengan batuan panas hasil bekuan magma serta uap-uap magma dalam suhu tinggi ini terjadi dan menyebabkan keasaman tinggi dari air danau.
Secara sederhana danau Kawah Ijen dibuat oleh  A. Bernard (tidak diterbitkan) digambarkan disebelah ini.  Menurut Bernard, air danau dengan kandungan  kimia ini ditentukan oleh volatil magmatik, interaksi batuan dan cairan, penguapan air danau, pengenceran oleh air meteorik dan daur ulang danau air melalui rembesan ke dalam sistem hidrotermal bawah permukaan.
Danau ini bertindak sebagai kimia kondensor untuk bahan yang mudah menguap dan juga sebagai perangkap panas kalorimeter yang dipasok oleh reservoir magmatik dangkal. Volatil magmatik dapat disuplai oleh sistem danau kawah berupa  injeksi langsung berupa  semburan uap magmatik (SO2, H2S, HCl dan HF) melalui rekah-rekah yang berhubung dgn dasar fumarol atau melalui air asin panas yang masuk di dasar danau.
Dengan demikian  interaksi air hujan, panas, kimiawi batuan, serta semprotan uap magma bercampur-baur dan dimasak menjadi air danau yang sangat asam.

Sumber :  
Commission of Volcanic lakes (CVL)Commission of the IAVCEI (International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior).
Rovicky.wordpress.com