Entri Populer

Minggu, 28 Februari 2016

Satu Indonesia Bersama Rio Haryanto


Published on Dec 14, 2015
Kalem di tampilan, garang di lintasan. Area GP2 baginya merupakan panggung untuk mengharumkan nama bangsa.

Di usia 22 tahun, kancah F1 menantinya berlaga. Simak perbincangan Marissa Anita dengan Rio Haryanto dalam Satu Indonesia.


Rio Haryanto Makes F1 History For Indonesia




Published on Feb 24, 2016
Action and reaction as Rio Haryanto takes to the track for the first time as a full-time Formula 1 driver for Manor Racing - making history for Indonesia in the process.

Wawancara Eksklusif Rio Haryanto: Siap Harumkan Indonesia di F1

Liputan6.com, Jakarta - Rio Haryanto resmi menjadi pembalap F1 bersama Manor Racing di 2016. Pengumuman soal kepastian Rio Haryanto gabung Manor terjadi pada Kamis (18/2/2016).


Bertempat di kantor pusat Pertamina, Rio mendengarkan langsung kabar baik dari Manor lewat teleconfrence. Ini kabar yang sudah ditunggu hampir selama tiga bulan terakhir.


Kabar ini tentu sangat melegakan Rio Haryanto. Soalnya, pembalap kelahiran Solo ini sempat dilanda ketidakpastian mendapatkan satu kursi di Manor F1. 



Dia terkendala oleh kurangnya dana untuk membayar 15 juta euro yang diminta oleh Manor. Bagaimana dan apa target Rio Haryanto di F1 musim ini? Liputan6.comberkesempatan untuk mewawancarai Rio Haryanto secara ekslusif.



Silahkan simak video wawancara lengkapnya di bawah ini:




Manor sign rookie Haryanto to complete 2016 grid

18 February 2016

Rio Haryanto will become the first Indonesian driver to compete in Formula One racing after signing to race with Manor in 2016.
The 23-year-old will partner Pascal Wehrlein as part of a new-look line-up at Manor Racing - formerly Marussia - for the forthcoming season.
Haryanto has previous F1 experience, having tested for Virgin Racing at the end of 2010, and then for same team, by then renamed Marussia, in 2012 and '15. He also has a prior relationship with Manor, having first driven for them in GP3 in 2010.
Melbourne will be a huge moment for me, my country, supporters and fans...
Rio Haryanto on making his Grand Prix debut in Australia
"Melbourne will be a huge moment for me, my country, supporters and fans and I want to thank everyone who's been with me since I started in single seaters; 2016 is my chance to reward that faith and represent Asia in F1," Harytanto said. 

"Manor Racing is a team with an exciting vision and ambitious plans. They have produced a great package and I can't wait to get in the car."
Stephen Fitzpatrick, Manor Racing's owner, said that Haryanto's performance in GP2 last year - he won three times, took five podiums and finished fourth overall - had impressed his team.
"We are delighted to announce Rio as our second race driver for 2016," Fitzpatrick said. 
"Rio's been racing since he first got into a kart at six years old. He's tenacious on and off the track and made a big impression on last year's GP2 battle. 
"Rio's huge following in Indonesia is great for the team and for F1. They are keen to see him on the grid and we're confident that we'll see him enjoying some exciting battles in the year ahead."
Manor are expected to make progress in 2016, with a new chassis to compliment a deal to use the class-leading Mercedes power units.

2016 F1 GRID

Mercedes: Lewis Hamilton, Nico Rosberg
Ferrari: Sebastian Vettel, Kimi Raikkonen
Williams: Valtteri Bottas, Felipe Massa
Red Bull: Daniil Kvyat, Daniel Ricciardo
Force India: Sergio Perez, Nico Hulkenberg
Renault: Kevin Magnussen, Jolyon Palmer
Toro Rosso: Max Verstappen, Carlos Sainz
Sauber: Felipe Nasr, Marcus Ericsson
McLaren: Fernando Alonso, Jenson Button
Manor: Pascal Wehrlein, Rio Haryanto
Haas: Romain Grosjean, Esteban Gutierrez
Source : http://www.formula1.com/content/fom-website/en/latest/headlines/2016/2/manor-sign-rookie-haryanto-to-fill-2016-grid.html

Senin, 01 Februari 2016

Gurano Bintang: Spesies Unik di Bumi Cendrawasih yang Menginspirasi

 Kekayaan spesies satwa di Indonesia memang luar biasa. Satwa-satwa ini memiliki karakter yang menakjubkan sehingga kerap menjadi daya tarik penelitian dan wisata, serta menyimpan potensi atas nilai pengetahuan dan filosofis yang tinggi. Salah satunya, spesies Hiu Paus (Whale Shark). Spesies ini tercatat sebagai ikan dengan ukuran paling besar dengan nama latin Rhincodon typus. Meski berlabel menakutkan layaknya hiu, rupanya Hiu Paus memiliki karakter ‘ramah’ karena tidak menyerang dan hanya memangsa plankton serta udang dan ikan-ikan kecil.
 
Nama ‘paus’ disandang Hiu Paus lantaran ukuran dan cara makannya. Ukuran paling besar yang pernah tercatat mencapai 20 meter, sementara yang paling kecil sepanjang 55 cm (21,7 inchi). Hiu ini makan dengan menyaring, seperti yang dilakukan Paus Balin. Caranya pun unik; mereka berenang perlahan melintasi perairan yang kaya dengan plankton, dengan membuka mulut lebar-lebar. Lantas mereka ‘menanti’ plankton-plankton itu masuk terhisap ke dalam rongga mulut bersama dorongan air. Ketika mulutnya tertutup, air yang tadi terhisap dikeluarkan sementara plankton-plankton terperangkap di bagian luar gigi-geligi. Sejumlah varietas plankton mikroskopik dan nekton (lebih besar dari plankton) yang disantap Hiu Paus, antara lain jenis udang kecil, anak ikan, dan makanan tuna dan cumi-cumi. Mereka juga memamah phyto plankton (tanaman mikroskopik) dan jenis alga (tanaman yang lebih besar). 
 
Hiu Paus kerap ditemui di perairan samudera tropis yang hangat. Di Indonesia, populasinya terdeteksi di perairan Kwatisore, Papua Barat, dan sekitarnya. Masyarakat di sana menyebutnya “Ikan Gurano Bintang”, berasal dari pola warna yang unik—bintik-bintik bercahaya dan bergaris di latar yang gelap, persis gugusan bintang di langit. Dikenal sebagai ikan yang ramah terhadap masyarakat yang menangkap ikan puri (teri), setiap pagi atau sore hiu ini mendatangi para nelayan yang menanam bagan-bagan ikan puri di sekitar perairan Kwatisore untuk meminta ‘jatah makanan’. 
 
Keberadaan Hiu Paus di Perairan Kwatisore mendorong pertumbuhan wisata di daerah ini. Kini Kwatisore dikenal sebagai salah satu lokasi kunjungan favorit para turis dan para peneliti spesies laut, ditandai dengan berdirinya sebuah resort dan operator selam lokal. Kemunculan Hiu Paus di daerah ini kerap dalam jumlah yang cukup banyak, yakni antara 4-6 individu, dan dapat diamati hingga 2 jam di bagan-bagan ikan Puri yang tersebar di sekitar perairan Kwatisore. Di sana, mereka tak malu-malu bercengkrama dengan masyarakat, bahkan sering terlihat berenang bersama. Masyarakat Papua tak pernah khawatir atau was-was, karena mereka telah paham bahwa hiu-hiu raksasa itu memiliki karakter tidak menyerang.
 
Namun demikian, eksistensi Hiu Paus bukannya tidak menghadapi ancaman. Meskipun usaha perikanan komersial untuk Hiu Paus dibatasi, nyatanya permintaan terhadap produk olahan spesies ini makin meningkat alih-alih harganya yang beranjak tinggi. Selain dagingnya yang dikonsumsi sebagai bahan masakan, minyak Hiu Paus digunakan untuk melapisi kayu pada kapal dan peralatan lain, untuk industri semir sepatu, serta sebagai obat sejumlah penyakit kulit. Akibat kebutuhan tersebut, penangkapan Hiu Paus terjadi secara sporadik dan grafiknya meningkat. Di Taiwan, ada sekitar 100 individu hiu jenis ini ditangkap dan dibunuh setiap tahunnya. Penangkapan ikan Hiu Paus juga terjadi di Filipina, terutama di wilayah Visayas dan Mindanao, serta kadang-kadang di sepanjang pantai di India. Perdagangan sirip Hiu Paus pun marak terjadi di Asia Timur, terutama di Hongkong. 
 
WWF-Indonesia sejak dua tahun terakhir melakukan usaha konservasi yang intensif terhadap spesies satwa di perairan yang masuk wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua, khususnya terhadap spesies Hiu Paus. Usaha ini diawali dengan pemasangan tagging untuk memantau pola ruaya hiu terbesar ini, dilanjutkan dengan pemasangansatellite tagging kerja sama WWF dengan para mitra (Mark Erdman dariConservation International dan Brent Stewart dari Hubbs-Sea World Research Institute) dan para donor (P. Yeung, D. De Jesus, dan E. Tan).
 
Hingga saat ini terpasang 50 unit RFID (Radio Frequency Identification Device) sebagai penanda individu Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan dapat dipastikan bahwa jumlahnya lebih dari ini. Enam Hiu Paus di antaranya berenang di perairan ini dengan membawa satelite tag yang akan memberikan informasi data suhu, kedalaman, dan penetrasi cahaya, serta posisi Hiu Paus selama 6 bulan. Semua informasi tersebut akan sangat berguna bagi riset ekologis dan perlindungan ikan terbesar di dunia ini.
 
Demikian unik dan berharganya raksasa laut berhati lembut yang ramah dan bersahabat dengan masyarakat Papua ini, WWF-Indonesia mendedikasikan nama Gurano Bintang pada sebentuk kapal kayu bermotor. “KM Gurano Bintang” merupakan sebuah kapal motor dengan misi pendidikan dan kesehatan yang melayani masyarakat di sepanjang perairan Taman Nasional Teluk Cenderawasih sejak Oktober 2011. Kapal ini awalnya bertugas di perairan Alor, bertujuan mengajak siswa-siswa sekolah untuk mengenal segala hal tentang laut dan seisinya. Untuk mendukung kegiatannya, lambung kapal lantas dihiasi dengan gambar hasil kreativitas pemenang lomba gambar anak-anak saat peresmian kapal pada 20 April 2007, serta dilengkapi dengan perpustakaan. 
 
Nama Gurano Bintang sendiri telah ditasbihkan menjadi slogan bagi masyarakat Kwatisore yang menggunakan bahasa Suku Yaur, “O En O Himmo Tanivre”, yang artinya “Kita Jaga bersama Gurano Bintang”.

source : http://www.wwf.or.id/?28040/gurano-bintang-spesies-unik-di-bumi-cendrawasih-yang-menginspirasi

Gurano Bintang, Inspirasi untuk Teluk Cendrawasih



Whale Shark

The Whale Shark (Rhincodon typus) is the biggest fish in the sea, a charismatic marine megafauna that brings excitement and adventure to dive enthusiasts as supports thriving tourism industries in Ningaloo Marine Park in Australia, Belize, Philippines, Mexico, Seychelles, and Christmas Island.  Unfortunately, the planet's largest fish is on the verge of extinction. Whale sharks are extremely vulnerable to over exploitation by man for several reasons. They have a slow growth rate, only reaching maturity at around 30 years old and living as long as 60 - 100 years. Their reproduction rate is also very slow - long intervals between pregnancies and producing around a few hundred pups at one time. In Taiwan and India documented catches have declined from the 1980's to 2000's. In Indonesia, sightings of whale sharks have also declined significantly at sites including West Papua; North Sulawesi; North Kalimantan; Nusa Tenggara Timur; East Lombok; Bali; East Java, Karimunjawa Islands; Ciamis; Riau Islands; Aceh and Cenderawasih Bay. Few data are available on the exact time, the appearance, the size, numbers and behavior let alone the environmental factors (eg. tuna feeding, coral spawning, fish spawning) that may be causal factors to their appearance.
Based on the limited sources of information, in West Papua, local people find regular appearances of up to 4 whale sharks up to 10m in length almost all year round. These sharks are very tame and allow people to swim close while they consume fishes from fishponds. Other regular sightings of whale sharks have been recorded in waters between Indonesia and Australia. Various records showed that whale sharks made their appearances along the southern coast of West Java to the Timor Sea from January to October.
Ten individuals were recorded separately from 2002 to 2008 with sizes ranged from about 5m-12m in length. The appearance strengthens the hypothesis about the migration paths of whale sharks from Ningaloo in Australia and northeast towards southern Indonesian waters.  Some sources indicate that these sharks may make their way up north to Sulawesi and Kalimantan through the straits between islands of Java, Bali, Lombok, and Nusa Tenggara Timur. It may also be possible that the sharks migrate from Ningaloo in Australia via Sumatra, Indonesia and into the Indian Ocean. Whale shark sightings have also been recorded in other areas in central and northern Indonesia, namely the Karimunjawa Islands in the Java Sea, Northern Kalimantan, Anambas Island, and Weh Island in Aceh. Records on these sightings were mostly associated to feeding behavior as the sharks appeared in the waters where seasonal aggregation of shrimps or plankton form as well as spawning aggregation of various species of reef fish and migratory tuna stocks. Attention to the management of these sites is needed especially as reports from these sites are of whale sharks that have been captured dead, are landed by shark processors or eaten by the locals.
One of the most infamous whale sharks 'slaughters' occurred in the waters of Lembeh Strait, North Sulawesi from 1996 to1997. The international community were outraged and the media called the incident the “Manado Walls of Death” , where 18 whale sharks were caught by tiger mesh trap nets near the Tangkoko Nature Reserve, set up across the pelagic migratory channel by Taiwanese fishermen, together with 1424 manta rays, 789 marlin, 577 pilot whales, 257 dolphins, 84 green turtles, and 9 dugongs during a year of operation (http://darwin.bio.uci.edu/ ~sustain/bio65/indonesia/indon97e.htm). Anticipation and protective action were implored from the Indonesian government to stop the activity who then banned the net from being operated in Indonesia, thus to conserve whale shark, marine mammals, and sea turtles, endangered species under the Convention on Inbternational Trade of Endangered Species.
As part of the development of a marine protected area network in northern Aceh, Sumatra the WCS team is focusing on reports of whale shark sightings so that marine protected area planning will take their movements and behaviour into account. Sightings on Weh Island from 1990 to 1997 and from 2000 to 2008 during the months of September to April were of animals sized between 3 and 12 metres. There are some indications that in the 1990s, whale shark sightings were more frequent than the recent years of 2000s. As a preliminary study, this sighting information is basic to observations on whale shark ecology and movement in the region and may provide clues where these animals come from and where they travel to.
source : 
http://programs.wcs.org/indonesia/Wildlife/Whale-Shark.aspx